Rabu, 03 Oktober 2018

Nikmatnya Teh Pasar Terapung


NIKMAT TEH
DI PASAR TERAPUNG

Pernah merasakan nikmatnya pagi hari sambil berbelanja di pasar tengah sungai? Anda bisa menemukannya di Pasar Terapung. Disini, minum kopi atau teh sambil makan sepotong kue di dalam perahu suatu hal yang unik, karena tidak bisa dilaksanakan setiap hari.

Siapa bilang wisata dalam negeri tidak menarik? Banyak lokasi wisata di dalam negri yang sebenarnya tidak kalah menarik dengan luar negeri. Ada wisata gunung, sungai, laut dan pantai serta wisata lain yang ditawarkan di Indonesia. kalau Anda belum menikmati semuanya, mungkin Anda tidak percaya Indonesia ternyata negeri indah yang tidak kalah dengan luar negeri.
Salah satunya adalah wisata sungai. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Anda akan menemukan banyak sungai. Tidak heran kota ini juga dikenal dengan kota seribu sungai. Salah satu objek wisata terkenal di sini adalah Pasar Terapung. Jadi rasanya memang belum sah datang ke kota ini bila belum mengunjungi pasar Terapung di Sungai Barito. Ini merupakan pasar tradisional yang mungkin hanya ada satu-satunya di Indonesia.
Hari  itu kami memang berencana ke pasar Terapung, yang letaknya di Muara Sungai Barito. Artinya pasar ini terdapat di perbatasan Sungai Barito dan Laut Jawa. Uniknya, pasar ini hanya ada di pagi hari. Antara jam 05.30 hingga jam 8.00 WITA. Setelah jam itu memang jangan berharap menemui pasar tradisional ini.
Menuju Pasar Terapung bisa dilalui dari ebrbagai rute. Kami mencoba lewat rute pelabuhan di Desa Kuin Utara atau tepatnya berada di depan Masjid Sultan Suriansyah. Bagi turis beragama Islam, biasanya menunaikan Shalat Subuh di masjid yang bangunannya terbuat dari kayu ulin tersebut. Mesjid ini merupakan mesjid yang tertua di Pulau Kalimantan. Sultan Suriansyah sendiri adalah raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam.
Kira-kira 15 menit ditempuh mobil menuju daerah Kuin ini. Disini kami sudah menemukan pelabuhan mini alias dermaga dengan banyak sekali perahu bermotor yang ditambatkan pada tiang-tiang pinggir suangai.
Para penjaganya menawarkan perahu mereka untuk menuju Pasar Terapung. Biasanya mereka menawarkan tiga opsi. Pertama, rute langsung ke Pasar Terapung. Kemudian ada rute Pasar Terapung dan  Pulau Kembang. Ada juga rute Pasar Terapung sekaligus keliling kota Banjarmasin dengan lewat sungai.
Baerapa tarif yang ditawarkan? Bila hanya ke Pasar Terapung sewa perahu cukup murah. Hanya Rp 100.000 saja. Tetapi bila ingin keliling kota juga biasa tarifnya Rp 250.000-Rp 300.000 per perahu. Tentu saja satu perahu bisa menampung 8-10 orang. Cukup murah bukan?
Perjalanan menuju Pasar Terapung bisa ditempuh kurang lebih 30-45 menit. Sepanjang jalan, yang kita tentu saja pemandangan kehidupan tepi sungai Barito yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan kita di daratan. Disini, hampir segala aktivitas kehidupan di lakukan di Sungai. Bahkan masih terdapat rumah-rumah kayu diatas sungai yang dikenal dengan rumah terapung. Walaupun semakin lama jumlahnya semakin sedikit.
Yang menjadi pertanyaan wisatawan, meskipun terbuat dari kayu, namun rumah tersebut sangat kokoh dan kayunya tidak lapuk.
jawabnya adalah karena kayu yang digunakan untuk rumah tersebut merupakan kayu jenis Ulin, sehingga semakin lama terendam akan semakin kuat.
Bahkan ada sebuah lelucon tentang kayu ini. Banyak mengatakan, umur kayu ini jauh lebih panjang daripada umur manusia penghuni rumah itu sendiri. Dengan kata lain, kayu ini memang terkenal dengan kekuatannya. 
Dinamakan pasar terapung, karena memang transaksi jual beli dilakukan di perahu yang berukuran kecil dan sedang. Barang yang dijual hampir sama dengan pasar-pasar yang ada di daratan. Dan umumnya kebutuhan makanan sehari-hari, seperti ikan, sayur-sayuran, dan buah-buahan.
Di pasar terapung juga ada pedagang yang menjual makanan siap saji, seperti kopi, teh, kue, nasi untuk sarapan dengan berbagai menu, seperti soto banjar, nasi kuning, ketupat kandangan, lontong,  ikan goreng, sate dan kue khas yang hanya akan Anda temukan di Kalsel.
Sesampai disana, rombongan kami yang terdiri atas 8 orang tak mau ketinggalan menikmati hidangan ala pasar terapung. Kamipun memesan teh manis panas, ketupat kandangan dengan iwak haruan dibakar (ikan gabus-red) dan bermacam kue yang rata-rata berasa sangat manis.
Bila beruntung, disini Anda akan menemukan buah kesturi. Sejenis buah mangga kecil dengan rasa sangat manis dan wangi. Tentu saja bila musim kesturi memang tiba di Banjarmasin. Harga yang ditawarkan memang relatif lebih mahal daripada harga di daratan, pengunjung sebenarnya juga bisa mengunjungi tempat yang tidak kalah uniknya dari pasar terapung itu sendiri, yaitu Pulau Kembang.
Pulau yang berada di tengah Sungai Barito itu ditumbuhi pohon khas Kalimantan dan dihuni kawanan monyet ekor panjang dan bekantan (moyet hidung mancung). 



Kami sendiri memutuskan tidak menuju Pulau Kembang. Tetapi menuju  sebuh restoran Soto Banjar yang terletak di tepian sungai. Warung Soto yang kami sambangi adalah Soto Bang Amat. Letaknya yang di Pinggir Sungai, memudahkan perahu kami untuk berhenti. Tidak menunggu, kamipun menuju warung sederhana ini.
Menu yang ditawarkan disini tidak banyak. Utamanya adalah Soto Banjar. Soto ini berbahan dasar ayam kampung, soon, pergedel kentang da telur rebus. Sepagi ini warung ini sudah sangat ramai. Disini semangkok soto dipatok harga Rp 25.000. Bila ingin tambahan ayam lagi tentu harganya lebih mahal. Selain soto, pengunjung biasanya juga memesan sate ayam dan beragam kue tradisional yang sebelumnya sudah kami lihat di Pasar Terapung.
Warung Bang Amat menyudahi perjalanan kami pagi itu. Usai bersantap, kamipun kembali ke dermaga Kuin dimana kami menitipkan mobil kami. Tentu saja pagi yang berbeda itu tidak akan kami lupakan begitu saja. Sebuah pagi dengan teh manis di atas sebuah perahu bergoyang ditambahkan kehidupan Sungai yang ternyata begitu sederhana. Ada yang ingin mencoba petualangan pagi di Sungai Barito juga? 

(tulisan dimuat dimajalah Transportasi Indonesia edisi 6} 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar Dengan Baik ya :)