Youtube
wb_sunny

Breaking News

Cerita Rumah Pertama dan Harapan Milenial

Cerita Rumah Pertama dan Harapan Milenial

Bagi saya, rumah pertama selalu menimbulkan kenangan tersendiri. Tentang perjuangan mendapatkannya sampai kisah membesarkan anak-anak disana.

Menonton beberapa acara “Shihab & Shihab” di Youtube, menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Kesan pertamanya tentu saja mereka merupakan keluarga yang kompak dan Quraish Shihab sendiri dan istri mampu membesarkan anak-anak yang berpendidikan, sukses sekaligus tetap hormat dan patuh kepada orang tua.


meraih mimpi rumah pertama

Kesan kedua yang saya salut, rumah mereka ternyata saling berdekatan. Jadi, Quraish Shihab dan kelima anak mantu dan cucunya, rumahnya saling berdekatan dalam satu kompleks. “ Saya bahkan bisa berjalan kaki lewat pintu belakang dari rumah saya ke rumah abi, “ kata Najwa Shihab dalam salah satu episode “Shihab & Shihab”.

Dalam episode yang lain lagi, mereka –para perempuan – di keluarga Shihab berkumpul untuk mendiskusikan masalah perempuan, karena saat itu memang episode hari Kartini.

Fenomena rumah berdekatan ini menurut saya sangat menarik. Dan terus terang saya tertarik untuk mewujudkannya juga di masa depan. InshaAllah. Apalagi semakin menua seseorang dan anak-anak yang saling terpisah jauh tentu saja sangat merepotkan. Baik bagi orang tua maupun bagi anak. Orang tua yang sudah renta, barangkali akan rindu anak dan cucunya. Sedangkan anak yang sudah jauh tempat tinggalnya, barangkali juga sangat terpikirkan kondisi orang tuanya yang jauh di mata.

Meskipun sekarang komunikasi sudah sangat canggih, tetap saja pertemuan secara langsung sangat-sangat berbeda. Bagaimana pedapat kalian?

 

Rumah Pertama Kami

Rumah pertama saya dan suami di Depok, Jawa Barat. Kami beli dengan over kredit saat itu. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang tabungan, ditambah bantuan mertua dan hutangan kepada dua sodara yang lain , rumah itu akhirnya terbeli. Setelah itu, kami masih mencicil selama tiga tahun lagi sisa cicilan, sampai akhirnya lunas.

Dan rumah tersebut sudah kami tempati selama bertahun-tahun terakhir. Selama rumah tersebut ditempati, tentu saja banyak suka, duka dan cerita di rumah ini. Mulai dari kelahiran anak-anak sampai membesarkan mereka hingga si sulung duduk dibangku SMA seperti saat ini.

Dalam beberapa tahun belakangan, kami sempat melakukan renovasi sedikit. Walau masih jauh dari rumah ideal, tentunya. Sempat kepikiran mau menjual rumah ini dan mencari lokasi yang lebih strategis misalnya, namun keinginan tersebut belum juga tercapai. Mungkin suatu hari nanti.

Dengan tiga anak saat ini, kami memang ada rencana mencari rumah yang lebih nyaman, kemudian siapa tahu ada rejeki untuk membangun atau membeli 3 rumah lain di sekitarnya. Tentu saja, ini murni mencontek konsep orang-orang yang bisa menciptakan rumah yang dekat dengan anak-anaknya di masa depan. Namun, yang sangat disyukuri adalah, kami sudah memiliki rumah. Sehingga tidak menjadi korban yang harus mengontrak seumur hidup. Apalagi ketika anak-anak membesar dengan banyak kebutuhan. Kesempatan membeli rumah biasanya makin sulit. Walaupun ini tidak berlaku bagi semua orang.

 

Harapan Millenial

 

Namun tidak banyak yang sebenruntung kami. Banyak teman-teman yang sebenarnya juga usia milenial – sudah menikah -- saat ini, tetap susah membeli rumah walaupun nyatanya sudah berpenghasilan bertahun-tahun. Apalagi ya, itu tadi, ketika anak-anak semakin besar dan butuh biaya sekolah yang lebih banyak, rumah tidak jadi prioritas utama lagi.

Data Bank Indonesia (BI) di awal 2019 menyebutkan hanya 40 persen millenial yang ternyata tertarik memiliki rumah. BI mencatat debitur yang mengajukan kredit berusia 26-35 tahun, dengan tipe rumah tapak 22-70m2, rumah susun 22-70m2 dan rumah susun dibawah 21 m2. Sedangkan 60 persennya belum memiliki pengajuan kepemilikan rumah.

Data lain dari Rumah.com Property Affordability Sentiment Index juga menyebutkan generasi millenial lebih suka tinggal di rumah orang tua dibandingkan membeli rumah sendiri.

Mereka ternyata juga berencana keluar dari rumah di usia 23-30 tahun atau ketika sudah menikah nantinya. Kemudian alasan lain dari millenial ini belum memiliki rumah adalah belum punya uang dan menjaga orang tua yang menjadi alasan mereka tidak membeli rumah lebih dahulu.

Padahal tentu saja, kesempatan membeli rumah  terbuka lebar bagi kaum millenial apalagi mereka sudah bekerja dan seharusnya bisa menabung untuk membeli rumah. Sesederhana apapun rumah tersebut.

Kabar baiknya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sangat peduli dengan milenial. Bukti nyatanya adalah fasilitas dan pembiayaan disediakan agar milenial bisa memiliki rumah sesuai kemampuan dan keinginan mereka.

Pemerintah sendiri, melalui Kementerian PUPR, membuat skema khusus untuk milenial. Seperti yang pernah disampaikan menteri PUPR Basuki Hadimuljono, kehadiran negara sangat perlu untuk milenial dalam penyediaan perumahan ini.

Tidak heran kemudian, pemerintah menciptakan skema untuk milenial seperti menghilangkan batasan gaji pokok untuk para pemohon kredit, kebebasan memilih tipe rumah, bunga yang rendah dan aturan down payment (DP) yang dibuat lebih ringan.  

Kebutuhan milenial juga menjadi perhatian Kementerian PUPR. Riset yang dilakukan Direktorat jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, rumah bagi kaum milenial adalah persinggahan sementara sehingga mereka memang membutuhkan rumah yang dekat dengan moda transportasi. Sehingga memang harus dibangun rumah dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

 

Perumahan Untuk Semua



Pemerintah sendiri sebenarnya sudah lama bekerjasama dengan perbankan dalam hal perumahan. Misalnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), sudah ada skema KPR subsidi melalui program Failitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Fasilitas MBR mulai Rp 2,5juta, Rp 4 jt untuk rumah tapak-Rp 7juta (rumah susun). Program ini melalui Kementerian PUPR. Tujuannya untuk membantu mereka yang berpenghasilan rendah memiliki rumah.

Salah satu yang menarik program Kementerian PUPR yang telah membangun sebanyak 2731 unit rumah khusus di Provinsi Papua selama 2015-2017. Kemudian di 2018 juga dibangun kembali 535 unit rumah khusus.

Pemerataan pembangunan baik infrasturktur dan perumahan diharapkan dapat memajukan kesejahteraan masyakarat Papua. Salah satu kampung yang mendapat bantuan pembangunan perumahan adalah kampung Pirine, kabupaten Lanny Jaya Papua, yang mendapatkan bantuan 50 rumah khusus dari Kementerian PUPR.ak

“ Saya berterima kasih. Kalau bisa jangan pembangunan ini putus, maju terus di 2019, 2020 dan selanjutnya, “ ujar Kris Nussy alias Corinus, Mantan Panglima TPN-OPM Yapen Timur yang kembali ke NKRI 17 Agustus 2017, seperti di saksikan di video “ Rumahku di Timur Matahari” yang diunggah di chanel youtube Kementerian PUPR.

Kedepannya, tentu saja kita berharap, semakin banyak yang bisa memiliki rumah dan akses yang nyaman. Bagi milenial misalnya, rumah yang ada akses transportasi ketempat bekerja tentu saja ideal.

Kita tentu juga memiliki harapan yang sama, bahwa rumah merupakan kebutuhan pokok dan setiap warga negara berhak memilikinya. Di belahan nusantara manapun mereka berada. Semoga #

 

TULISAN DIIKUTSERTAKAN PADA LOMBA MENULIS KEMENTERIAN PUPR “ MERAIH MIMPI RUMAH PERTAMA “




Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

6 komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar Dengan Baik ya teman-teman.. Untuk yang menyertakan link hidup, mohon maaf, akan langsung dihapus :)

  1. Saya juga tinggal di perumahan Mbak. Kebayang waktu baru pertama kali beli, habis renovasi sedikit sedikit, pulang kerja bentar bentar dilihatin rumahnya. Sekarang harga rumah melambung tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak,sekarang harga rumah melambung bgt ya...iya nih,klo kami masih renov dikit aja hehehe

      Hapus
  2. Dari dulu saya selalu iri melihat rumah keluarga yg bisa saling berdekatan.. Berharap juga kelak bisa berdekatan rumah dengan anak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sama kak, semoga bisa kayak gt.khususnya keluarga inti ya

      Hapus
  3. memang rumah itu penting ya, tp mahal banget sekarang ini. jaman aku dulu mau beli sdh ada rumahnya. kalau skrg. sdh nyicil tpi rumah belum dibangun

    BalasHapus