Youtube
wb_sunny

Breaking News

Pengalaman Menyekolahkan Anak Di Daar el Qolam 2

Pengalaman Menyekolahkan Anak Di Daar el Qolam 2


Sudah lama ingin menuliskan pengalaman menyekolahkan anak kami di Pondok Pesantren Daar El Qolam 2. Tentu saja ini pendapat pribadi, pengalaman pribadi dan sangat subjektif.

2020 ini tahun keempat (kelas 4) anak kami –santri putri -- di Daar El Qolam 2 (Darqo 2). Pondok pesantren Modern ini terletak di kecamatan Jayanti, Gintung, Balaraja, Tanggerang. Jangan disangka ini ponpes yang baru berdiri setahun dua tahun saja. Ponpes ini sudah ada lebih dari 50 tahun yang lalu. Salah satu pendirinya sendiri adalah KH Ahmad Rifa’i Arief (1942-1997) 

menyekolahkan anak di daar el qolam2
sumber foto : daar el qolam




Oh iya, tulisan ini spesifik Darqo 2, karena terus terang di Darqo lain ,saya kurang paham. Daar El Qolam sendiri ada 4 pondok, Darqo 1,2,3 dan 4. Semuanya ada jenjang SMP-SMA-nya. Aslinyapendidikan selama 6 tahun. Namun banyak juga yang tamat SMP/Mts sudah stop dan melanjutkan ke sekolah lain SMA-nya. Tidak masalah juga tapi kalau tidak salah tidak mendapatkan ijazah pondoknya. Anak-anak yang hanya mondok selama 3 tahun ini dikenal dengan go-three .

Pola Pendidikan

Sedikit bercerita ke belakang, tentu saja anak kami juga mengalami “ drama” seperti anak-anak yang dimasukkan pondok pada umumnya. Misalnya minta berhenti,mengaku tidak betah, tidak cocok ini itu , sampai sering sakit.  Tahun pertama anak kami di Pondok, sakit-sakit memang tergolong sering. Kadang kami dapat telp/WA atau SMS dari pondok untuk menjemput karena si kakak sakit. Sakitnya mulai ringan macam gatal-gatal di wajah sampai types lah, panas bahkan ada juga masalah sakit telinga (yang waktu itu pengobatannya lumayan mahal karena RS terdekat ya, cukup mahal) hehehe

Ini tentu saja kebanyakan cerita anak di tahun pertama. Tahun kedua, relatif lancar. Paling-paling minta sering ditengok atau minta pulang (agak susah ini). Tahun ketiga drama-nya lain lagi. Pengen go-3 seperti beberapa temannya. Namun karena tahun ketiga ini bertepatan dengan pandemi dan agak repot, kami memutuskan tidak  mendaftar sekolah lain walaupun si kakak sempat ingin mencoba tes di SMA baru.

Hingga akhirnya sampai pada tahun keempat, alias kelas 4.

Soal pendidikan tidak berbeda dengan pesantren pada umumnya. Selain sekolah umum (SMP IT) di siang hari, sore hari biasanya ekskul dan malam hari aktivitas belajar bersama, zikir bersama dll.

Pola pendidikan lain yang diterapkan di Pondok adalah pembiasaan ibadah, pembiasaan bahasa, skill yang menumbuhkan rasa percaya diri (pidato / lomba antar santri, beragam ekskul) dan masih banyak lagi.Tidak heran, dalam tahun pertama saja, seingat saya, anak saya sudah bisa bercaka-cakap dalam bahasa selain bahasa Indonesia (sedikit Inggis dan lancar bahasa arab). Walau bahasanya kadang terdengar aneh di telingga, terutama bahasa inggris (yang saya pahami) yang “nabrak-nabrak” grammar B.Ingris.

Hasil Pendidikan & Kelemahan

Selain bahasa tadi, di anak saya, secara umum ya tidak berubah drastis juga sih. Tapi harus diakui lah, karena terbiasa ibadah harian, mereka hampir tak perlu disuruh-suruh buat sholat, ngaji juga lancar dan bagus plus kalau di rumah mengerjakan ibadah tambahan (rutin mengaji dan shalat tahajut misalnya). Anak saya juga rajin menghapal mandiri Al Quran diluar program pondoknya.

Sedangkan skill hidup yang lain agak kurang. Misalnya , urusan bersih-bersih rumah agak “tidak terbiasa”.. Demikian juga dengan nyuci baju (karena mungkin bisa loundry juga)..
Kelemahan lain, mungkin karena padatanya kegiatan di pondok, kadang kalau libur, banyak dihabiskan dengan tidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Oh iya satu lagi, karena di pondok nggak pegang handphone, kadang kalau di rumah jadi main handphone terus (komunikasi sama temen-temen pondoknya juga sih – mungkin tipikal ABG ya) – dekat sama teman-temennya, apalagi teman pondok.

Oh iya, resminya libur setiap 6 bulan sekali. Bulan desember dan Juni (bulan puasa-lebaran).masing-masing libur 15 harian.kecuali, pas pandemi lalu,libur jadi sangat panjang. Kadang ada sesekali anak-anak izin karena saakit atau hal mendesak lain.Itupun lewat bagian pengasuhan (yang lumayan rumit,menurut saya—sebagai wali santri). Tetapi mungkin memang ada pertimbangan tersendiri.

Jangan kaget kalau anak-anak banyak kehilangan barang-barangnya di pondok.macam daleman, daster,baju sampai sepatu. Bukan karena ada yang nyuri tapi karena mereka memang ceroboh menyimpannya (menurut saya). Selain itu,ketuker-tuker karena mungkin mirip. Padahal jelas-jelas sudah pakai nama juga.

Yah,begitulah suka duka anak pondok..

Soal Makanan

Soal makan ini sangat relatif sebenarnya. Yang repot anak saya tergolong anak yang susah makan. Makan di rumah saja yang relatif standar sangat susah apalagi di pondok , kurang lebih sama keadaannya.

Anak saya suka minta paketin beberapa makanan. Teutama pas pandemi ini karena kunjungan sangat-sangat terbatas Akhir Agustus rencana akan dibuka 1x kunjungan orang tua)
 .
Sebelum pandemi, dimana orang tua bisa berkunjung, kebutuhan makan anak-anak justru menurut saya agak “berlebihan dan jauh dari sederhana”.Orang tua yang mengunjungi anak-anak, suka membawa makanan dalam jumlah yang banyak sehingga anak-anak yang tidak dikunjungi, juga kebagian makanan dari orang tua yang datang. Alhamdulillah sih, rejeki anak-anak.

Biaya Pendidikan

Biaya pendidikan pondok menurut saya cukup ‘reasonable”, terutama kalau membicarakan SPP dan uang makannya tiap bulan. Tapi orang tua harus menyiapkan biaya masuk pondok di tahun pertama (uang pangkal).kemudian setiap tahun ajaran baru ada uang daftar ulang dan uang buku plus SPP awal tahun yang harus disiapkan.

Itu saja pengalaman saya menyekolahkan anak saya di Darqo 2 (puteri). Tentu saja sangat subjektif. Semoga bermanfaat.  

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

9 komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar Dengan Baik ya teman-teman.. Untuk yang menyertakan link hidup, mohon maaf, akan langsung dihapus :)

  1. Mba sebelum masuk pondok udah ada persiapan apa aja ya biar gak byk drama wktu masuk nanti

    BalasHapus
  2. Ada plus minusnya ya mbak apapun sekolahnya. Tulisan ini membantu banget sih buat ortu yg pengen sekolahan anaknya di tempat ini.

    BalasHapus
  3. Hmm, bisa menjadi referensi nih bagi ortu yang ingin menyekolahkan anak ke pondok. Aku suka di bagian yang reasonablenya itu, ada barang ada harga ya kan Mbak.

    BalasHapus
  4. Pesantrennya besar ya. Dari artikel mbak enny saya jadi tahu sedikit kehidupan di ponpes. Rupanya seru juga, terutama soal barang yang tertukar. Membayangkan gimana kebingungan mereka pas tau barangnya tertukar.

    BalasHapus
  5. Aku padahal pengen tau lebih banyak sih terutama soal biaya dan manajemen berkunjung ini, hihihi. Tapi nanti lah kalo mendekati waktunya ya

    BalasHapus
  6. Kalo diliat problem yang dihadapi anak, kekurang labih aja en dengan anakku. Tapi anakmu lebih stay strong ya. Beda ma si boyku yang anak mami. Tapi lucunya sampe sekarang walaopun sudah keluar pondok, teman-teman dekatnya masih kekawanan yang di pondok juga. ya aneh tapi nyat memang.

    BalasHapus
  7. kalau di ponpes memang biasanya banyak banget ya kegiatannta. tapi positifnya biasanya yang sekolah di pesantren ini lebih mandiri ketimbang yang nggak pesantren. tapi kayaknya juga tergantung orang tuanya. hehe

    BalasHapus
  8. Penasaran sm biaya pendidikannya nih. Krn ada rencana masukin anak di pesantren jg suatu hari. Udah nabung jauh2 hari tp entahlah apa emaknya siap mental ditinggal. Wkwk

    BalasHapus