FBB
KEB

IHB

Belajar dari Jusuf Hamka, Pengusaha Muslim yang Dermawan

 

Menarik menonton beberapa podcast bersama Jusuf Hamka, pengusaha muslim Tionghoa. Tujuannya hidup untuk banyak berbuat baik. Teladan buat kita semua, khususnya saya.

jusuf hamka

 

Podcast yang pertama kali saya tonton adalah wawancara Jusuf Hamka dengan Helmy Yahya, mantan dirut TVRI yang juga aktor. Kemudian podcast kedua dengan Denny Sumargono yang juga aktor. Kemudian saya juga sempat menyimak percakapan Jusuf Hamka dengan Rudi Salim.

Yang terakhir ini adalah pengusaha mobil yang kini rupa-rupanya mencoba peruntungan baru ditengah maraknya podcast di dunia per Youtube-an tanah air.

Siapa Jusuf Hamka

Ditengah banyaknya orang yang mengaku-ngaku sultan, crazy rich atau rich, sepertinya Jusuf Hamka-lah yang harusnya diakui sebagai sultan sesungguhnya dengan kekayaan yang melimpah namun tetap berperilaku sangat sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Mengutip dari Wikipedia, H. Mohammad Jusuf Hamka atau juga dikenal dengan nama Babah Alun ,lahir 5 Desember 1957 dan merupakan pengusaha Muslim Tionghoa-Indonesia.

Dia juga dikenal sebagai bos jalan tol di Indonesia antara lain merupakan pemilik konsesi dari ruas Tol Cawang - Tanjung Priok atau Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono. Jalan tol ini memiliki panjang hampir 15 kilometer yang melintasi ruas Jalan Bypass yang melintasi wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara.

Selain itu dia juga merupakan komisaris di beberapa perusahaan dan masih menjabat direktur utama di sejumlah perusahaan.

Jusuf memeluk Islam saat bertemu Buya Hamka di usia 23 tahun, pada tahun 1981. Waktu itu ia melihat di Majalah Tempo, ada orang masuk Islam (disyahadatkan) di Masjid Al-Azhar. Alun langsung ke sana, bertemu Ustaz Zaimi, Sekretaris Masjid Agung Al-Azhar dan menyatakan niatnya masuk Islam.

Alun kemudian dibawa ke rumah Buya Hamka di Jalan Raden Fatah. Awalnya Alun ingin mempelajari dan menunda dulu untuk masuk Islam sampai besok harinya. Tapi ditolak oleh Buya Hamka.

Alasannya, kita tak tahu apa yang terjadi beberapa waktu kemudian apalagi esok hari. Kalu misalnya Alun meninggal dan belum jadi musliim, maka akan berbeda biila iya telah jadi muslim.

Alun mengucapkan dua kalimat syahadat dan dibimbing oleh Buya Hamka. Namanya diganti oleh Buya Hamka menjadi Jusuf Hamka, pada 1981.. .

Seperti sering dikatakannya dalam podcast, dia tidak tahu sama sekali siapa Buya Hamka. Ia hanya pernah melihat Buya Hamka ribut dengan Menteri Agama dan Presiden Soeharto saat perkara fatwa haram MUI soal perayaan Natal bersama bagi Muslim. Kala itu Buya Hamka dan pemerintah berbeda pendapat, dan berakhir dengan pilihan Buya untuk meletakkan jabatannya di MUI. (sumber : wikipedia).

Ditilik dari latar belakang keluarga, kedua orang tuanya termasuk orang yang terpelajar. Sang ibu adalah guru dan sang ayah seorang dosen.

Ayahnya Dr. Joseph Suhaimi, S.H (Jauw To Tjiang), seorang dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, dan ibunya Suwanti Suhaimi (Siaw Po Swan),[ seorang guru.

Jusuf merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara kedua orang tuanya mendukung keputusan Yusuf untuk masuk ke Islam bahkan turut membantunya dalam menjalankan ibadah Islam.

Di dalam podcast, Jusuf bercerita, ketika puasa malah ibunya yang membangunkan sahur dan memasakkan untuk menu berbukanya.

Bapaknya juga mendukung penuh. Bahkan ketika dia mengemukakan niatnya untuk berhaji bersama teman, ayahnya lah yang membiayai. “ Saat itu naik haji , pada 1984, hanya 2 juta. Jadi berdua dengan teman 4 juta saja. Tapi ayahnya memberikan uang sebanyak 25 juta,” ujarnya.

Uang itu selain digunakan buat biaya haji, ujarnya, juga digunakan untuk qurban beberapa orang di tanah suci. “ Sisanya saya gunakan buat membeli oleh-oleh seperti kalung yang ada gambar ka’bahnya, “ ujarnya lagi.

Penerimaan keluarga akan keIslamannya tidak diikuti dengan penerimaan lingkungan pertemanannya. “Saat itu banyak yang mencemooh kenapa saya masuk Islam, padahal Islam adalah agama orang miskin, “ ujarnya.

Itulah yang memperkuat tekadnya untuk menjadi orang kaya Indonesia suatu hari nanti.” Ucapan saya rupanya didengar malaikat yang meng-aminkan,” ujarnya dengan tertawa.

Seorang yang dermawan

Hari ini, Jusuf bukan hanya dikenal sebagai orrang super kaya dengan berbagai bisnis yang dimilikinya, tapi juga dikenal sangat dermawan.

Walau naik turun kehidupannya juga telah dialaminya namun Jusuf tetap mampu membalikkan keadaan. Misalnya ketika 1998, dia rugi sangat besar dan bisa dikatakan dalam kondisi bankrut.

Kini,   Jusuf dikenal merupakan pendiri Warung Nasi Kuning untuk kaum duafa. Dia juga mendirikan Masjid Babah Alun di bawah jalan tol Ir Wiyoto-Wiyono, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Cita-cita adalah membangun 1000 mesjid di Indonesia.

Tentang warunng nasi kuning dhuafa, jangan salah ini bukan warung nasi kuning gratis. Tetapi warung nasi kuning yang sangat murah yaitu hanya 3 ribu per bungkusnya . “Kami membeli dari warung sekitar 10 ribuan dan kami jual 3 ribu saja. Kenapa dijual? Biar tidak memonopoli pahala “ ujarnya lagi.

Memonopoli pahala disini maksudnya, siapa tau dengan harga murah tersebut adalah yang mau atau mengajak temannya lagi untuk makan hehe. Oh iya, nasi kuning ini tak dapat dibungkus tapi hanya bisa buat makan ditempat saja.

Selain soal kedermawanan, Jusuf juga sederhana dalam berpenampilan. “ Tidak masuk akal buat saya beli jam tangan harga ratusan juta apalagi miliaran. Kalau 2-3 juta masih masuk akal,” ujngkapnya dalam podcast..

Namun Jusuf memiliki tak kurang dari 30-an mobil. “Kebanyakan hadiah saja sebagai komisaris karena saya tak menerim uangnya , “ ucapnya membuka rahasia. #

Posting Komentar

Terima Kasih sudah berkunjung dan berkomentar dengan baik. Mohon sebutkan nama atau akun google-nya ya

Untuk yang menyertakan link hidup atau tanpa identitas, mohon maaf, komennya tidak akan di ditampilkan :) Terima kasih