Rabu, 30 Januari 2019

(PENGALAMAN) KETIKA KANTOR MEMUTUSKAN MENG–OFFICELESS KAN KARYAWANNYA


waktu bersama keluarga lebih banyak (dok: pribadi)

 
Apa yang harus kamu lakukan ketika kantormu memutuskan mengofficeless kan karyawannya?

Beberapa hari lalu seorang teman bercerita tentang kantornya yang akan melakukan ujicoba officeless per Januari ini. Beberapa divisi dalam perusahaan rencananya hanya akan masuk kerja pada senin dan kamis setiap minggunya. Sedangkan hari lainnya diwajibkan bekerja dari rumah atau di luar kantor saja.

Belum jelas apa yang mendasari kebijakan ini. Tetapi kemungkinan besar karena kantornya ingin melakukan efisiensi dalam beberapa hal. Kemudian juga melihat kemacetan Jakarta yang sudah sedemikian parah sehingga lebih efektif bila pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah, ya dikerjakan di rumah saja (daripada membuang waktu terlalu lama di jalanan, bukan?).

Bagaimana dengan gaji karyawannya? Menurut teman saya, gaji tetap akan dibayarkan seperti biasa, terutama gaji pokok dan uang makan harian. 

Sedangkan uang transport akan dipangkas karena sudah bekerja dari rumah ini. Mungkin kantor akan memberikan biaya internet juga.

Jadi penasaran, gimana “hasil” officeless di kantor temen saya ini.

Pengalaman saya ber-officeless

Saya sendiri mengalami pengalaman panjang melakukan pekerjaan kantor di rumah. Orang lain melihatnya jobless tapi sebenarnya officeless.
Setelah resmi resign dari kantor lama, saya kemudian melakukan komitmen dengan sebuah kantor yang membolehkan kerja di rumah. Pernah sih, dalam seminggu 3x ke kantor, kemudian hanya 1x seminggu sampai pada akhirnya hanya ke kantor bila ada meeting kantor dan hanya komunikasi lewat email dan mengirim pekerjaan saja.   

Gimana dengan salary? Jujur, saya mendapatkan gaji bulanan (lumayan menurut saya—belum tentu bagi orang lain nilainya lumayan), uang per projek plus THR. Alhamdulillah.  

Dimana saya biasa bekerja? Jawabnya : dimana-mana. Kadangkala di rumah (kebetulan di rumah ada lantai atas yang bisa digunakan buat bekerja). Atau kalau kepepet ya malam hari, kalau anak-anak sudah tidur.

Hmmm...karena saya dan suami mempunyai keluarga besar yang (alhamdulillah) seringkali berkunjung, berlibur dan bermalam di rumah kami, maka kalau sudah seperti ini, saya memutuskan bekerja di luar rumah saja. Lebih tenang dan bisa berkonsentrasi.

Tahukah kalian tempat yang saya pilih? Paling sering di MC* 24 jam yang kebetulan dekat dengan rumah. Tinggal memesan makanan dan minuman secukupnya, dekat-dekat dengan colokan laptop, membawa modem/tetring,  biasanya saya sudah bisa mulai bekerja.

Waktu yang saya pilih memang agak pagi (persis seperti jam kerja orang kantoran). Ini sebenarnya strategi. Biar tempat duduk yang biasa saya “incer” tidak ditempati pengunjung lain. Hahaha. Biasanya mendekati siang saya sudah bisa pulang ke rumah.

Hasilnya, alhamdullilah. Hingga hari ini pekerjaan “online “ selama bertahun-tahun ini lancar walau kadang ada beberapa kendala. Mulai masalah jaringan yang bermasalah sampai urusan komunikasi yang tidak tersampaikan. Tapi tetap, alhamdullilah.

Selain pekerjaan tetap, kadang kala saya juga menerima pekerjaan dari perusahaan lain. Sepanjang bisa, pekerjaan tersebut pasti saya terima. Syaratnya ya tetap, bisa dikerjakan di rumah atau manapun.

Bagaimana jika kantormu memutuskan untuk  officeless?

Officeless bisa diartikan meniadakan kantor. Banyak juga orang yang menyebutnya teleworking. Golongan ini aslinya tetap mempunyai kantor, diakui sebagai karyawan, namun bisa bekerja dari mana saja.

Dalam konteks kantor saya, hanya ada beberapa karyawan yang officeless, seperti saya. Tidak banyak. Itupun dengan negosiasi yang lumayan alot.

Nah bagaimana kalau kantormu memutuskan officeless? Menurut saya ada beberapa keuntungan yang akan kamu dapatkan:

Bisa mengatur waktu sendiri
Iya dong. Apalagi targetnya jelas. Kamu bisa atur waktu dimana kamu nyaman dalam bekerja. yee kan?

Dekat dengan keluarga
Mungkin lebih punya waktu bersama anak-anak bagi yang sudah menikah. Paling tidak akan bertemu ketika mereka berangkat dan pulang sekolah dan melihat perkembangan mereka lebih banyak lagi. Hal yangs selama ini mungkin banyak kamu lewatkan.

Tetap punya penghasilan bulanan
Bersyukurlah dengan kebijakan perusahaan ini. Apalagi gaji bulanan kamu tidak berkurang bukan?

Anti stres dan anti macet
Ini yang paling penting. Kemacetan yang terlalu lama seringkali menyebabkan kita stres, pusing dan nggak mood lagi bekerja. Bekerja di luar kantor dijamin anti macet hihihi. Dijamin kinerjamu membaik.

Tantangan dan Tips ber- officeless


Selain hal-hal menyenangkan tadi, banyak tantangan officeless. Ini  beberapa diantaranya :

Mendisiplinkan diri sendiri
Yes banget. Kitalah yang punya otoritas terhadap diri kita sendiri. Termasuk soal disiplin. Tantangan officeless adalah tidak ada pengawas, tidak ada bos. Yang ada hanya target pekerjaan dan deadline. Nah, kitalah yang harus memaksa diri kita untuk tetap disiplin dalam bekerja.

Gangguan anak dan keluarga
Ini yang saya rasakan juga. Yang harus kita lakukan adalah meminimalisir berbagai gangguan itu. Caranya mulai dari mensosialisasikan bahwa kita bekerja di rumah kepada keluarga, menetapkan jam kerja di rumah sampai sebisa mungkin ada ruang khusus untuk bekerja.
Bila tetap merasa diganggu, bisa dengan cara mengerjakan di tempat lain yang lebih nyaman dan memungkinkan.

Meminimalisir kesalahan komunikasi
Ini bisa diatasi dengan menerima sejelas-jelasnya job desk apa saja, mengingat baik-baik deadline pekerjaan sampai tetap menjalin berkomunikasi yang baik dengan tim atau atasan.

Kehilangan teman ngobrol dan berbagi
Ini pengalaman pribadi. Awal resign dan bekerja dari rumah ternyata ada yang terasa hilang. Ternyata yang dirasakan tersebut adalah kehilangan karena biasanya ada teman ngobrol, sharring, makan siang besama dll di kantor kan. Persiapkan diri untuk hal ini.

Demikianlah plus minus kerja officeless. Semoga selalu sehat dan pekerjaan kita barokah. Aamiin.








2 komentar:

  1. gabisa membayangkan kalau jadi officeless, kadang ada tugas yang dibawa pulang aja suka mager wkwkwkwk

    enaknya bisa atur waktu buat keluarga dan me time diri sendiri. Ga ngabisin waktu di jalan hohoo

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.mager emang tantangan terberatnya hehehe..

      Hapus

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar