Minggu, 28 April 2019

MENGATUR KEUANGAN PASKA PHK





Mengatur Keuangan Paska PHK

  
PHK merupakan sesuatu yang tidak diinginkan siapapun. Namun seringkali hal tersebut terjadi tanpa diduga. Bagaimana mengatur keuangan paska PHK?

Assalamualaikum,
Alhamdulillah kembali lagi kita bersua. Kali ini saya ingin berbagi soal mengatur keuangan paska PHK.

Ya seperti yang kita ketahui, pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan sesuatu yang mudah. Apalagi ketika pemutusan itu mendadak dan sepihak. Yang mengalami PHK tentu tidak ada persiapan apa-apa.

Barangkali memang ada sebagian kasus dimana pesangon yang ditawarkan lumayan besar, sehingga yang mengalami PHK menjadi sedikit lebih “ringan”.

Namun satu hal yang harus diingat baik-baik, PHK bukan akhir dari segalanya. Tentu saja masih banyak kesempatan dan peluang. Dan ingat baik-baik, rejeki sudah ada yang mengatur. Tidak perlu terlalu risau sembari terus berusaha dan berdoa.

Btw, idealnya sih ketika di PHK, kamu sudah memiliki persiapan. Beberapa pakar bidang perencanaan keuangan menyebutkan persiapan dari sisi keuangan minimal 6x jumlah gaji. Wow. Jadi kalau kamu bergaji Rp 4 juta. Artinya kamu sudah ada tabungan Rp 24 juta buat persiapan siapa tau suatu hari di PHK yaa..hmmm



Namun hidup tak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Itu sudah rahasia umum hehe. Belum nyampe punya tabungan sebanyak itu buat persiapan PHK, eh kok ya tiba-tiba ada PHK dengan pesangon secukupnya saja. Sedih? Galau? Sudah pasti.

Namun bismillah saja. Kenyataan yang ada di depan mata harus dihadai. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan buat kamu yang terlanjur kena PHK. Sudah berkeluarga ataupun masih single.

1. JANGAN PANIK
Kata orang bukan senjata yang akan membunuhmu tetapi kepanikanmu. Nah, itu ungkapan yang betul sekali. Jadi apapun yang terjadi jangan pernah panik. Kalaupun sedih, nggak boleh berlama-lama. Segera bangkit dan cobalah mencari peluang baru.

2. UTAK-ATIK LAGI ANGGARAN RUMAH TANGGA
Yes.langkah ini wajib banget dilakukan. Bagaimanapun anggota keluarga juga harus paham dengan kondisi darurat ini. Banyak pos yang harus dipangkas. Jadi misalkan anggaran selama ini sebesar Rp 7 juta sebulan terdiri dari
Cicilan motor : 1.000.000
Biaya makan  : 2.000.000
Biaya pendidikan anak2 : 2.000.000
Transportasi : 1.000.000
Internet dan pulsa : 300.000
Hiburan : 500.000
Lain-lain : 200.000

Maka bisa diperkirakan, yang tidak bisa dipangkas adalah biaya pendidikan anak dan cicilan motor (Rp 3.000.000). Sedangkan biaya lainnya kemungkinan bisa dikurangi. Misalnya     

Biaya makan : 1.500.000
Transportasi : 500.000
Internet pulsa : 150.000
Hiburan dan lain-lain : 0

Totalnya : Rp 5.150.000  

Angka ini sebenarnya masih besar, apabila kamu tidak memiliki tabungan atau persiapan apapun. Namun tentu saja berapapun biaya yang dipangkas akan sangat berharga dengan kondisi keuangan yang sedang dalam kondisi prihatin.

3. LUNASI UTANG KONSUMTIf
Yes. Kalau masih ada uang sebaiknya memang dilunasi utang konsumtif supaya tidak memberatkan. Ini dengan catatan kamu masih punya uang berlebih ya.
Utang konsumtif misalnya utang kartu kredit. Utang lain seperti cicilan motor, rumah dan lainnya yang sifatnya jangka panjang tidak perlu dibayar terlebih dahulu, apalagi masih sangat panjang waktunya.

4. SEGERA CARI PEKERJAAN BARU
Tentu saja ini hal penting yang harus segera kamu lakukan. Mencari pekerjaan baru.
Namun ini bukan seperti membalik telapak tangan. Terus berusaha dan berdoa. Belum dapat kerjaan tetap? Yes, kamu bisa mencari pekerjaan sampingan terlebih dahulu atau part time sesuai kebisaanmu. Bisa ngajar? Segera buka iklan les bagi anak-anak.
Apalagi bila kmu pintar musik, menulis, menggambar dan banyak lagi. Tentu saja kesempatan terbuka lebar.

5. TERUS BERUSAHA DAN BERDOA
Tentu saja usaha harus terus dijalankan. Jangan putus asa. Dan yang terpenting lagi, tetaplah konsisten berdoa dan mendekatkan diri pada-Nya.

Semoga sukses dan 
Tetap semangat..

2 komentar:

  1. Yang jelas, harus segera berjuang melepaskan diri dari stress dan berpikir positif. Kalau enggak, nggak bakalan ada yang jalan tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bgt mbak dyah.harus mulai berjuang lagi.semangatt..

      Hapus

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar