Senin, 28 Oktober 2019

BERDAMAI DENGAN ANEMIA ! ANTISIPASI DENGAN MALTOFER


Terkena anemia sungguh pengalaman tak terlupakan. Apalagi sampai transfusi darah berkantong-kantong. Harus hati-hati sekarang, jangan sampai pengalaman buruk tersebut terulang.

Maltofer Woman Community (dok: pribadi)



Juni 2017. Saat itu kami sekeluarga berbelanja ke pasar Tanah Abang. Si sulung akan masuk pesantren sehingga kami harus membeli berbagai perlengkapannya. Entah kenapa, saya merasa lemas sekali muter-muter pasar yang saat itu sebenarnya tidak terlalau padat, karena sudah melewati Idul Fitri. Saya menyangka ini merupakan efek sarapan yang terlalu sedikit sebelum ke Tanah Abang. Sayapun mengatakan ke suami, yang langsung membeli minuman dan mengajak makan. Namun, tidak banyak perubahan sampai ke rumah lagi.


Pengalaman lain adalah ketika saya dan suami naik motor. Baru jalan beberapa meter dari rumah, motor ternyata bocor. Saya disuruh suami untuk jalan ke depan komplek menunggunya disana. Sedangkan dia akan mencari tukang tambal ban dulu. Sayapun ditinggal untuk jalan yang tidak jauh sebenarnya. Namun apa yang terjadi? Baru beberapa langkah, saya lemas sekali dan memutuskan berdiam di pinggir jalan saja menunggu suami. Suami saya akhirnya menjemput ke tempat awal karena tidak menemukan saya di depan komplek. Dia bingung kenapa saya tiba-tiba lemas.

Besoknya kami memeriksakan diri ke dokter klinik dekat rumah. Kebetulan BPJS saya disana. Dokternya langsung kaget karena melihat saya yang pucat sekali. Ibu dokter langsung merujuk saya ke Rumah Sakit Grha Permata Ibu Depok. Sampai sana, saya langsung periksa darah dan hasilnya dibawa ke dokter kandung. Dokter kandungannya memang biasa menangani saya sebelumnya, dr. Iskandar Mirza SpOG. Hasilnya mengejutkan. Tes hemoglobin (HB) saya hanya di angka 4.

Tak banyak bertanya, dokter langsung menyuruh saya mencari kamar rawat inap di rumah sakit tersebut. Perawatnyapun sigap, langsung memeriksa beberapa hal. Antara lain periksa jantung. Sayangnya, hari itu, semua ruangan penuh sehingga saya disuruh segera mencari rumah sakit lain.
Akhirnya, suami membawa saya ke rumah sakit HGA Depok. Sampai halaman rumah sakit dan menuju IGD, saya sudah tak sanggup lagi berjalan. Suami sampai mengambil kursi roda untuk membawa saya ke IGD. Agustus 2017, saya akhirnya dirawat 4 hari dan mendapat empat kantong tambahan darah. 


PENGALAMAN BERULANG KEMBALI

Anemia dan harus tambah darah (dok :pribadi)

Akhir September 2019, kejadian berulang. Kali ini kerjadiannya di Banjarmasin. Seperti biasa saya menyebabkan badan yang cepat lelah, lemas, ingintidur terus dan yang memperparah lagi, tidak ada nafsu makan sekali. Sementara aktivitas sehari-hari harus tetap berjalan sebagai mana mestinya. Mulai menyiapkan anak-anak yang mau sekolah di pagi hari, antar jemput anak sekolah hingga aktivitas wajib di rumah tangga.

Dua hari sebelum di rawat, saya sudah stop aktivitas dan hanya tidur-tiduran saja karena memang sudah merasa tidak bertenaga. Jadi jangan tanya soal pekerjaan menulis saya, stop sementara dan hanya doing nothing.

Saya cek ke puskesmas, HB saya menunjukkan 7,8. Langsung di suruh cek ke rumah sakit. Benar saja, di cek ke rumah sakit HB saya makin parah menunjukkan angka 7,5. Dokter kandungan di RS Bhayangkara Banjarmasin, dr. Sutarinda SpOG, langsung rekomendasi untuk menginap di RS. Kali ini saya harus ditambah lima kantong darah, yang harus beli sendiri ke Palang Merah Indonesia (PMI) dan dirawat selama lima hari.

Alhamdulillah setelah lima hari, kesehatan saya membaik. Tapi tentu harus tetap dijaga buat  selanjutnya dong.

PENYEBABNYA ADALAH MENSTRUASI TIDAK TERATUR

Penasaran, apa penyebab saya anemia sedemikian parah? Kedua kasus di 2017 maupun di 2019 memiliki kemiripan. Saya termasuk yang mengalami menstruasi nggak teratur. Kadang mens, tapi dua bulan berikutnya berhenti mens. Sekali mens lagi langsung banyak dan bisa lebih 15 hari dengan jumlah yang sangat banyak. Ini menyebabkan saya kekurangan zat besi.
Di 2019 bahkan tiga bulan terakhir , saya menstruasi dalam waktu 15 hari lebih dan dalam jumlah yang banyak sekali.
Repot yang saya rasakan tentu saja luar biasa. Apalagi kalau perjalanan jauh, khawatir banget, apalagi dengan mens dalam jumlah banyak. Belum lagi risiko anemia.


Diagnosa dokter di 2017 hanya karena terjadi perubahan hormon. Sedangkan di 2019, dokter mendiagnosis ada miom di rahim saya dan sekarang masih dalam pengobatan.
Apakah saya tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi? Jangan salah temans, semua makanan yang masuk list sudah saya coba. Mulai hati ayam, daging, sayur bayem, buah naga tambah kurma.Namun, anemia tetap menyerang.

SEANDAINYA SAYA SUDAH MENGKONSUMSI MALTOFER

 
tes HB diangka 14 (dok:pribadi)

Kalau boleh waktu berputar, tentu saja sejak dari dulu mengkonsumsi Maltofer. Apa sebenarnya Maltofer? Baru-baru ini kami mengikuti sebuah workshop yang diadakan Maltofer Woman Community. Workshop sehari, di Banjarmasin, dengan tema “ Peran penting zat besi dalam 1000 hari kehiduan pertama (golden age) Nan Cemerlang“ menghadirkan dua pembicara.

Pembicara pertama adalah dr. Gladys Gunawan SpA (K). Menurut dr Gladys,  anak sebenarnya sudah sejak kecil bisa diketahui kecerdasannya. Bahkan usia sebelum dua tahun sudah bisa dicek kecerdasan dn pertumbuhannya.

Dokter anak asli Banjarmasin ini juga mengatakan banyak ibu-ibu yang tidak awas dengan pertumbuhan anaknya. Padahal dalam setiap tahap usianya, ada “keahlian” standar yang harus dimiliki anak dan wajib diketahui orang tua.

“Banyak orang tua yang anaknya sudah usia 13 tahun dan orang tuanya baru datang untuk meningkatkan kecerdasannya. Sudah sangat terlambat, “ ujarnya sambil tersenyum.
Pembicara selanjutnya adalah dr Carlina Nekawati, Medical Junior Manager Combhiphar. Menurutnya, anemia bisa menyerang siapa saja. Namun untuk perempuan dewasa, standar HB adalah minimal 12. “ Jadi bila kurang dari 12 , sudah bisa dikatakan anemia,” ujarnya.

Nah untuk mengatasinya, dr Carlina menyarankan untuk mencukupkan zat besi dalam tubuh. Dan kalau kurang, bisa mengantisipasinya dengan mengkonsumsi suplemen penambah darah seperti Maltofer.

Bagaimana dengan ibu hamil? Menurutnya, tentu saja ibu hamil orang yang sangat wajib mencukupkan kandungan zat besi dalam tubuhnya. “ Apalagi ada bayi dalam kandungan yang akan berakibat buruk bagi si bayi bila sampai kekurangan zat besi, “ tambahnya.

Kecukupan zat besi dalam tubuh juga wajib dimiliki dalam 1000 haru pertama kehidupan seorang bayi. “ 1000 hari bukan dimulai dari usia nol tapi dari dalam kandungan,” ujar  dr. Gladys Gunawan lagi. Apalagi, kekurangan zat besi merupakan kekurangan gizi  yang paling umum di seluruh dunia yang hampir mempengaruhi 3 miliar orang.

Maltofer adalah produk suplemen zat besi dalam bentuk Iron Polymaltose Complex berkualitas dari PT. Combiphar pertama di indonesia dalam bentuk tablet kunyah, original Swiss dan sudah 50 tahun di dunia.

MENGAPA HARUS MALTOFER?

body friendly iron (dok : pribadi)


#Besi Tablet kunyah dalam iron (III) Hydroxide Complex (IPC). Dimana  setiap partike-partikel terbungkus dalam sebuah polimer karbohidrat. Gunanya untuk mencegas akibat besi dalam pencernaan dan mencegah interksi besi dalam makanan.
#Efektif  dan ditoleransi dengan baik untuk ibu hamil dengan Iron Defisiensi Anemia
# Efektif  dan ditoleransi dengan baik untuk anak-anak dengan Iron Defisiensi Anemia
#Dapat diberikan bersamaan dengan makanan atau obat dan tidak ada interaksi yang merugikan. Dan tentunya body friendly iron.

Yang menggembirakan lagi Maltofer adalah besi tablet kunyah (IPC) rasa coklat pertama di Indonesia dengan efek samping minimal. Dan , yang uniknya lagi disukai anak karena rasa coklat SWISS nya dan taste besi yang minimal.  

ANEMIA ENYAH DENGAN MALTOFER?

#maltofer
#maltoferindonesia
#maltoferwomancommunity #combhiphar

#Banjarmasin

2 komentar:

  1. Musti banyak kulineran yang ada cah kangkungnya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul bang day.tapi cah kangkung aja nggak cukup.harus tambah ikan bakar, ayam bakar, nasi, plus jus mangga :) :)

      Hapus

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Berkomentar Dengan Baik ya :)