FBB
KEB

IHB

(Review) Film The Architecture Of Love

review film the architecture of love


Architecture of love berkisah tentang dua insan yang sama-sama ingin lari dari cinta masa lalunya di New York kemudian saling jatuh hati.

" Mampu merasakan cinta tanpa dicintai balik itu CUKUP "  

Sudah banyak yang mereview tentang film Architecture of love. Tapi tetap tertarik menuliskannya dengan versi jalan pikiran sendiri setelah menonton film ini. 

the architecture of love


Menonton film ini di Surabaya adalah salah satu rejeki tersendiri. Awalnya nggak niat nonton2 film tapi mau eksplore Surabaya melalui museum-museumnya. Ternyata ketika baca info-infonya, museum Surabaya seragam tutup di hari Senin. Wow.

Akhirnya kepikiran buat mengisi hari Senin dengan nonton film dulu kemudian sorenya baru janjian ketemuan sama temen Blogger Surabaya. Ide bagus hari itu :)

Akhirnya menonton film ini di Royal Plaza, mall yang cukup dekat dengan kos kakak di Ketintang Surabaya.  

REVIEW FILM TAOL

Film ini diawali dengan cerita Raia Risjad (Putri Marino) yang saat itu sedang di puncak karirnya. Salah satu bukunya yang terinspirasi dari sang suami berhasil di film kan. Malam itu suaminya, Alan (diperankan oleh Arifin Putra)  juga datang ke acara launching filmya namun kemudian pamit pulang duluan karena mengaku sedang sakit.

Seusai acara, Raia segera pulang namun menemukan sang suami ternyata BERSELINGKUH

Sejak kasus itu Raia mengalami writer block  selama hampir setahunan. 

Raia memutuskan lari ke New York untuk menyembuhkan luka akibat  perceraian dengan suaminya dan menyembuhkan luka hatinya. Di New York dia tinggal bersama sahabat karibnya  Erin (diperankan oleh Jihane Almira).

Erin lah yang kemudian banyak mendorong Raia untuk kembali sembuh dan menemukan orang baru di hidupnya. Raia dalam film ini juga terlihat terbuka untuk pertemanan-pertemanan baru walaupun tidak ada yang spesial. Salah satunya betemu Aga ((diperankan oleh Jerome Kurnia), yang sempat jatuh cinta juga ke Raia.

Namun takdir rupanya membawa Raia bertemu dengan seseorang yang klik dan se frekuensi walaupun beda profesi. Dialah River (diperankan Nicholas Saputra).

River, arsitek pendiam ternyata punya trauma masa lalu yang tidak main-main. Di hari ulang tahunnya kehilangan sang istri karena kecelakaan membuatnya tak pernah lepas dari cinta masa lalu

Perkenalan dengan Raia membuat mereka sering menyusuri sudut-sudut kota New York yang dijadikan Raia sebagai inspirasi tulisan-tulisannya dan dijadikan River sebagai inspirasi juga dalam sketsa-sktsa arsitekturnya.

Namun cinta yang mengalir diantara mereka tak berjalan mulus. Naik turun dan tanpa kepastian. River juga di satu sisi tertarik dengan Raia namun di sisi lain masih sangat mencintai almarhum istrinya dan enggan membuka hati buat orang baru.

Yang menarik Raia cukup sabar menghadapi River yang pernah marah hebat di mobil atau menghadapi River yang terbiasa menghilang-hilang mengikuti mood hatinya.

Film ini juga berkisah soal  Diaz (diperankan oleh Omar Daniel), seorang musisi jazz yang dicintai oleh Erin tapi ternyata juga jatuh cinta dengan Raia.

Cinta ternyata bisa hadir dalam berbagai bentuk dan rupa. Namun kita tak bisa bohong, hati hanya terpaut kepada seseorang. Itulah yang dirasakan Raia ke River dan sebaliknya.

Plot twist dalam film ini cukup indah  : Raia kembali bertemu dengan River di Jakarta, setelah sekian lama saling menghilang.

CINTA ITU KESABARAN

Salah satu yang menarik dalam film ini, seakan mengatakan bahwa cinta juga butuh kesabaran. Kesabaran ketika mencintai seseorang dan ternyata orang tersebut butuh waktu panjang buat sembuh dari masa lalunya.

Film adaptasi dari novel Ikka Natassa dengan judul yang sama ini, juga mengajarkan tidak ada salahnya membuka hati buat orang baru, apalagi ketika cinta itu berbalas. 
“Cinta adalah anugerah dan patah hati adalah musibah, and that's a life.”

Seperti kata Raia : bukan hanya pembaca yang butuh happy ending, penulis juga butuh happy ending (dalam cerita hidupnya)

Film ini secara umum mengjarkan ketulusan mencintai walau tanpa berbalas, kesabaran menunggu cinta dan mengajarkan juga : yang hilang belum tentu tidak kembali. Bahkan kemudngkinan akan kembali lagi di waktu yang tepat dengan versi terbaiknya. 

Jadi, haruskah kita mengerjar-ngejar cinta yang menghilang? Seharusnya tidak ya, karena bila memang takdirnya ada, cinta tersebut akan datang kembali bahkan barangkali dengan waktu dan cara yang tidak pernah disangka-sangka.

Tertarik menonton film ini? masih ada di bioskop seluruh Indonesia.

Lebih asik menonton film ini SENDIRIAN menurut saya sih. Seperti lebih kena ke hati aja tanpa berbagi cerita dengan pasangan/teman nonton kita yang lain.

RATING : 1000/10

Semoga bermanfaat






4 komentar

Terima Kasih sudah berkunjung dan berkomentar dengan baik. Mohon sebutkan nama atau akun google-nya ya

Untuk yang menyertakan link hidup atau tanpa identitas, mohon maaf, komennya tidak akan di ditampilkan :) Terima kasih
  1. Wah penasaran euy, apalahi kalo adaptasinya Ika Natasha, penulis yang bukan kaleng-kaleng.

    Yups, cinta emang butuh kesabaran ya. Mangkanya dulu kisah romansaku merana semua. Soalnya daku kalo udah dapet sinyal merah dikit langsung mundur. Main aman ajalah kita mah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo nonton juga !!! hahaha itu belum jodoh dan belum rejeki aja kok, cinta butuh kesabaran dan effort ternyata :)

      Hapus
  2. Sebenernya aku lebih tertarik beli buku ya mba. Krn pasti alurnya lebih komplit. Tapi terkadang kalo udh baca buku ya, JD penasaran aja gimana kalo tokoh2nya dimainkan dlm film. Itu juga yg bikin aku terkadang mau nonton filmnya. Tp tetep harus bukunya dulu aku baca 😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, lebih asik baca bukunya hahaha, dan dari buku kita juga dah bisa bayangin sendiri kok tokoh2nya haha.ini kebetulan blm baca bukunya, nonton filmnya aja hehe

      Hapus
Kumpulan Emak Blogger (KEB)
Kumpulan Emak Blogger (KEB)
Female Blogger of Banjarmasin
Female Blogger of Banjarmasin