FBB
KEB

IHB

3 Perubahan Kehidupan Ketika Memutuskan WFH

 

work from home
ilustrasi bekerja dari rumah (sumber foto ; kompas money)

Bekerja dari rumah ada plus minusnya.Tapi yang jelas, mobil di rumah sering tidak terpakai walau kita tetap harus paham soal cara jumper aki mobil

Rejeki tak harus selalu berbentuk uang. Kadang waktu yang cukup luas, adalah satu bentuk kasih sayang-nya dan tentu saja juga bentuk rejeki. Itulah yang saya rasakan, dalam beberapa tahun terakhir ini.

Iya, bekerja dari rumah (work from home /WFH) memang salah satu rejeki yang saya dapatkan di dunia pekerjaan setelah resmi resign dari kantor terakhir,4 tahun lalu. Ringkasnya sih,penghasilan yang diperoleh cukup lumayan dan tentu cukup waktu untuk melakukan banyak aktivitas di luar pekerjaan. Khususnya keluarga.  

Keluarga yang saya maksudkan disini tak hanya keluarga inti yang memang masih butuh perhatian terus tetapi juga ada kesempatan merawat orang tua yang sudah lansia. Walau terkadang memang terasa kurang maksimal, karena ya memang terbagi dengan beban pekerjaan yang saya lakoni di rumah.

Sebenarnya 5 tahun lalu,saya sempat ditawari untuk sebuah posisi yang lumayan menggiurkan dengan gaji yang juga lumayan, buat saya saat itu.

Namun, entah kenapa, saya akhirnya memutuskan tidak mengambil kesempatan itu.Terkadang memang ada rasa menyesal juga sih, karena menyia-nyiakan kesempatan yang barangkali tak akan terulang lagi. Tawaran karir yang sangat bagus dan berpotensi buat kedepannya.

Tapi hidup tentu bukan hanya soal potensi dan kesempatan, ada banyak hal lain yang pada akhirnya harus dipikirkan masak-masak sebelum mengambil suatu keputusan.

Berharap sih, ada kelak jalan lain yang lebih menjanjikan. Mungkin saja, saat itu waktunya memang kurang pas.

Btw,akhirnya saya memutuskan bekerja dari rumah seperti saat ini. Tentu dengan dinamika suka dan dukanya, yang sudah saya ceritakan dalam blog ini beberapa kali. Intinya sih, disyukuri saja semuanya. Sembari terus bergerak dan belajar sehingga setiap kesempatan akan datang dan datang kembali.

Kehidupan Berubah

Memang sih awal-awal kehidupan terasa berubah.misalnya nih, biasanya kita bergaul dengan banyak teman-teman kantor dengan berbagai ragamnya, tiba-tiba hanya di rumah dan bergaul hanya dengan orang rumah saja.

Kalaupun ada interaksi dengan klien atau kantor, lebih banyak via online.

Mungkin semua juga sudah paham, via online tentu saja berbeda dengan interaksi offline. Kadang ada pemahaman yang salah, kadang juga ada interaksi yang terasa “ kosong”. Ada yang berbeda.

Perubahan kedua adalah soal aktivitas. Bila biasanya pagi-pagi sudah sibuk persiapan bekerja, tiba-tiba keadaan tak demikian. Tidak lagi berjumpa dengan macet yang terlalu sering hingga kendaraan di rumah yang lebih banyak nganggurnya.

Mobil hanya digunakan saat-saat weekend bersama keluarga. Padahal biasanya digunakan untuk aktivitas harian.

Lumayan sih jadi lebih hemat BBM juga.Namun demikian ada PR tersendiri, untuk belajar kembali bagaimana merawat mobil yang lebih banyak didiamkan di rumah saja, misalnya.

Salah satu yang disarankan adalah memang melakukan beberapa hal.Misalnya ya tetap memanaskan mesin mobil secara berkala dalam 10 menit an di pagi hari. Kemudian juga memperhatikan kondisi aki mobil sebagai sistem kelitrikannya mobil agar tetap awet dan prima. Demikian juga soal aki mobil dan cara jumper aki mobil yang harus dipelajari.

Selain soal pertemanan dan soal kemacetan, perubahan lain dalam kehidupan adalah soal ritme pekerjaan. Kalau biasanya ada pengawasan dan waktu yang mengikat di kantor, tentu bekerja dari rumah jauh lebih fleksibel dari sisi waktu

Tapi tentu saja ,soal deadline dan target pekerjaan merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi.perlu konsistensi dan kedisiplinan yang luar biasa, khusunya dari diri sendiri.

Terakhir, saya ingin mengatakan, bahwa segala perubahan yang dilakoni harus mendapat support dari keluarga.Minimal keluarga inti, seperti pasangan dan anak-anak. Jangan sampai mereka tidak memahami role baru dalam pekerjaan yang kita lakukan di rumah. Bila semuanya bisa diwujudkan, InshaAllah semuanya akan lancar terkendali.

Terima kasih yang sudah membaca, semoga bermanfaat.

4 komentar

Terima Kasih sudah berkunjung dan berkomentar dengan baik. Mohon sebutkan nama atau akun google-nya ya

Untuk yang menyertakan link hidup atau tanpa identitas, mohon maaf, komennya tidak akan di ditampilkan :) Terima kasih
  1. WFH memang ada plus minusnya ya mba. banyak benefitnya, tapi tentu ada kurangnya yang juga sempat menjadi concern.

    Saya alumni WFH kemudian memtuskan resign dan memulai untuk fokus dengan apa yang ingin saya kembangkan. Semoga selalu mendapatkan dukungan dari orang terdekat ya mba, dan lancar segala urusannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin mbak Dian, maaf baru balas komennya hehe..iya mbak semua tetap ada plus minusnya.Dinikmati dan dijalani aja, iya kan? thank you mbak

      Hapus
  2. Betul sekali, support dari keluarga inti itu kunci. Makasih banyak ya. Semoga sehat selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin pak Akhmad.iya pak, support keluarga kecil memang paling utama, biar gak ada kendala di kemudian hari hehe.tks pak sudah membaca artikelnya..

      Hapus